Pensiunan Guru TK di Jambi Kaget Diminta Kembalikan Uang Rp75 Juta

Asniati (60) seorang pensiunan guru TK, saat ditemui dikediamannya di Kecamatan Jaluko, Kabupaten Muaro Jambi foto by : kompas.com

Jambi, DRADIO.ID – Asniani (60), seorang pensiunan guru taman kanak-kanak (TK) di Desa Sungai Bertam, Kecamatan Jaluko, Kabupaten Muaro Jambi, terkejut saat diminta mengembalikan uang sebesar Rp75 juta kepada pemerintah kabupaten. Uang tersebut merupakan gaji dan tunjangan yang diterimanya selama tahun 2022 dan 2023.

Asniani mengaku baru mengetahui bahwa ia seharusnya pensiun pada tahun 2022, ketika berusia 58 tahun. Namun, selama tahun 2022 dan 2023, ia tetap menerima gaji dan tidak ada pemberitahuan mengenai pensiun tersebut.

“Kalau memang saya harus pensiun di tahun 2022, mengapa tidak ada pemberitahuan atau surat resmi? Padahal, data saya di BKD menunjukkan bahwa saya pensiun pada usia 60 tahun,” ujarnya

Asniani sempat mengurus berkas pensiunnya di BKD Muaro Jambi pada tahun 2023. Beberapa bulan kemudian, saat ingin menanyakan perkembangan berkasnya, ia justru diminta mengembalikan gaji dan tunjangan yang diterima selama dua tahun. Asniani merasa keberatan dengan tagihan tersebut, apalagi ia sudah benar-benar mengajar selama dua tahun tersebut.

“Dari mana saya harus mendapatkan uang sebanyak itu? Itu kan hak saya selama dua tahun. Kenapa gaji yang sudah saya terima harus dikembalikan? Saya bekerja penuh selama dua tahun,” katanya.

Ia berharap masalah ini bisa diselesaikan dengan adil. “Saya berharap ada solusi yang adil dan saya bisa mendapatkan bantuan,” harap Asniani.

Sekretaris Daerah (Sekda) Muaro Jambi, Budhi Hartono, menyatakan bahwa hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan adanya kelebihan pembayaran gaji guru TK sebesar Rp75 juta pada tahun 2023.

“Hasil pemeriksaan BPK menunjukkan ada kelebihan bayar gaji guru TK di Sungai Bertam sekitar Rp75 juta,” ujarnya.

Budhi menjelaskan bahwa Asniani mengurus masa pensiunnya pada Oktober 2023. BKD sudah meminta Asniani melengkapi kekurangan berkas, namun mantan guru tersebut baru datang kembali ke BKD pada April 2024.

“Karena sudah terlambat, ada konsekuensinya. Itu adalah kelalaian dari guru tersebut,” jelas Budhi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *