Kelanjutan Kasus Santri Tebo, Diduga Masih Terdapat Pelaku Lain Saat Penganiayaan

Kelanjutan Kasus Santri Tebo, Diduga Masih Terdapat Pelaku Saat Penganiayaan
Kelanjutan Kasus Santri Tebo, Diduga Masih Terdapat Pelaku Saat Penganiayaan. Foto: Muhammad Hair/dradio.id

DRADIO.ID – Penyebab kematian Airul Harahap alias AH (13) seorang santri Pondok Pesantren Raudhatul Mujawwidin Rimbo Bujang Wiranto Agung Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi pada 14 November 2023 yang lalu masih berlanjut hingga saat ini dan masih dalam tahap pengembangan.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jambi Kombes Andri Ananta Yudhistira mengatakan “Pihak kepolisian saat ini masih melengkapi berkas dengan cara berkoordinasi dengan pihak JPU dan pihak kepolisian akan mencoba mengkontruksikan kembali terkait kejadian yang menyebabkan korban meninggal dunia,” ujarnya.

Saat kejadian terdapat beberapa orang yang sekarang statusnya masih sebagai saksi. Pihak kepolisian mencoba memeriksa dan berkoordinasi dengan pihak kejaksaan terhadap saksi-saksi tersebut dalam kasus santri Tebo, apabila yang bersangkutan melihat kejadian tersebut namun mereka tidak melaporkan kejadian, mereka bisa dinyatakan bersalah. Saat ini, pihak kepolisian sedang mempersiapkan pasal yang akan dikenakan dan polisi akan melakukan gelar perkara.

“Pada saat proses pelaksanaan itu terjadi ada beberapa orang anak yang memang pada saat itu juga ada disana, untuk alasan mengapa mereka tidak melapor saat ini sedang didalami oleh pihak kepolisian” terang Kombes Andri Ananta Yudhistira.

Rekonstruksi terakhir menyatakan bahwa ada beberapa orang anak disana yang melihat kejadian tersebut, sehingga proses yang pihak polisi lakukan kemarin masih berlanjut hingga saat ini.

Saat ini polisi berfokus pada orang yang melihat kejadian tersebut berdasarkan rekonstruksi terakhir pada kasus santri Tebo. Sebelum kejadian ini di rilis, pelaku yang berkonflik mengaku tidak ada kekerasan. Polisi sedang mendalami kasus, siapapun yang terlibat akan dimintakan pertanggung jawabannya.

Kasus tewasnya santri yang terjadi pada tanggal 4 November 2023 yang lalu motifnya karena korban menagih hutang sebesar 10 ribu rupiah yang berujung konflik dan kekerasan. Keterangan dari beberapa saksi masih dilakukan pengusutan.

“Keterangan pelaku dan saksi selalu berubah-ubah, itulah yang membuat kasus ini tak kunjung selesai. Ada beberapa orang lagi di TKP namun mereka tidak melaporkan kejadian tersebut. Polisi tidak berhenti untuk mengungkapkan kasus ini dan tetap bekerjasama dengan pihak JPU” pungkas Kombes Pol Andri Ananta Yudhistira.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *