Penyebab Kasus Kematian Santri Tebo Terungkap, Dianiaya Karena Menagih Hutang

Penyebab Kasus Kematian Santri Tebo Terungkap, Dianiaya Karena Menagih Hutang
Penyebab Kasus Kematian Santri Tebo Terungkap, Dianiaya Karena Menagih Hutang. Foto: Muhammad Hair/dradio.id

DRADIO.ID – Pengusutan kasus kematian seorang santri di pondok pesantren (ponpes) Raudhatul Muhawwidin Kabupaten Tebo atas nama Airul Harahap (13) terus dilakukan.

Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jambi melakukan pengungkapan kronologi dan motif para pelaku.

Hal ini disampaikan melalui gelaran konferensi pers yang bertempat di Lantai 3 Gedung SPKT Mapolda Jambi, Sabtu (23/3/2024).

Pengungkapan dilakukan langsung oleh Kapolres Tebo AKBP I Wayan Arta Ariawan, didampingi Dirreskrimum Polda Jambi Kombes Pol Andri Ananta, Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol Mulia Prianto, Wadir Reskrimum, Kasat Reskrim, Kasubdit Jatanras dan Dokter yang menangani jenazah korban.

Saat ini, pihak kepolisian telah menetapkan dua tersangka pelaku, diantaranya dengan inisial A dan R. Diketahui kedua pelaku juga merupakan senior dan santri di ponpes yang sama dengan korban.

Dirreskrimum Kombes Pol Andri Ananta menyatakan, bahwa pasal yang disangkakan adalah dugaan tindakan pidana kekerasan terhadap anak di bawah umur yang mengakibatkan kematian.

“Kami menyampaikan bahwa yang kita hadapi adalah anak-anak yang berhadapan dengan hukum, baik itu saksi, korban ataupun yang berkonflik dengan hukum. Sehingga, ada perlakuan yang memang harus kita jaga dan perlu kehati-hatian dan ketelitian dalam proses penyelidikan yang kita lakukan,” ungkap Kombes Pol Andri Ananta.

Kombes Pol Andri Ananta, Dirreskrimum Polda Jambi.

Kemudian, diungkapkan bahwa kejadian ini bermula saat korban ingin menagih uang yang dipinjam pelaku sebesar Rp.10 ribu. Namun, reaksi pelaku seakan tidak menerima dengan sikap korban yang menagih hutangnya tersebut.

Pelaku pun melakukan tindakan penganiayaan kepada korban atas sikapnya tersebut. Bukan hanya itu, pada kemudian hari (14 November 2023) pelaku kembali merencanakan penganiayaan kepada korban dengan mengajak ke lantai 3 ponpes dan pelaku juga mengajak rekannya dalam melakukan tindakan kejam tersebut.

“Dari hasil proses penyelidikan dan penyidikan yang kita lakukan, kita mendapat keterangan terhadap dua anak yang berkonflik dengan hukum dengan cara dilakukan tersangka oleh anak yang berkonflik dengan hukum dengan inisial (R) memegang korban dan tersangka inisial (A) memukul kepala dan rusuk dengan menggunakan tangan, kemudian (R) memukul paha korban serta kembali memegang korban dari belakang,” jelas Kombes Pol Andri.

Kemudian, tersangka (A) kembali melakukan pemukulan korban menggunakan kayu di bagian paha, rusuk, bahu, pipi. Setelah itu, tersangka (A) membanting korban dan menginjak punggung, kepala serta tangan korban secara berulang.

Usai melakukan aksinya, korban diangkat dan diletakkan di depan pintu masuk lantai atas.

“Ini kronologis yang kita dapatkan setelah proses penyelidikan dan penyidikan yang telah dilalui berjalan hampir 4 bulan,” lanjut Andri.

Barang bukti yang berhasil diamankan saat tindakan penganiayaan.

Pihak kepolisian berhasil mengamankan beberapa barang bukti, diantaranya sehelai baju, 1 kain sarung, 1 celana dalam, 1 peci, 1 kawat panjang 30 cm, kawat 38 cm, kabel warna hitam 182 cm dan 1 kayu persegi (balok).

Dalam proses pengungkapan kasus kematian santri Tebo ini, sebanyak 54 orang dilakukan pemeriksaan yang meliputi saksi, rekan korban, kakak kelas korban, adik kelas korban, pengurus ponpes, dan dokter yang menangani jenazah korban.

( Mh ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *