Organisasi Wartawan dan Media Desak Pengeroyok Wartawan Ditangkap

MUARABUNGO- Dua wartawan liputan di Kabupaten Bungo,  Fitri Yadi, wartawan Jambione dan Taufik Iskandar, kontributor TVOne yang dikeroyok sekelompok orang saat meliput kegiatan pelangsiran Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU di jalan Lingkar arah Bandara Bungo,  sudah melapor ke Polres Bungo, Sabtu malam (29/5). Sebelum melapor keduanya sudah divisum dan mendapat perawatan di RSUD Hanafie Bungo.

Menurut kererangam Fitri Yadi, dia dan Taufik dikeroyok sekitar 20 orang saat melakukan investigasi terhadap kegiatan pelangsiran minyak secara ilegal di SPBU tersebut. Sebelumnya mereka mendapatkan informasi dari masyarakat di SPBU itu sering terjadi kegiatan pelangsir BBM.

Keduanya lalu mendatangi SPBU tersebut. Ternyata memang ada sebuah truk yang sedang mengisi minyak. Tapi bukan mengisi tanki truk,  melainkan mengisi tanki di bak truk sudah dimodifikasi. Kabarnya BBM tersebut akan dilangsir ke salah satu perusahaan batu bara di Bungo.

” Kami sudah minta izin kepada sopir truk itu untuk mengambil gambar. Kami juga sudah memperkenalkan diri sebagai wartawan. Dan dia mengizinkan. Makanya kami berdua langsung mengambil gambar,” kata Pitriadi. 

Namun, tak berapa lama kemudian datang petugas SPBU meminta dengan cara paksa menghapus gambar dan video, serta merampas memory card di handy cam Taufik. Setelah memory card diambil datang sejumlah orang langsung mengeroyok, menyerang dan memukul keduanya secara brutak. ” Kami dipukul dan diinjak injak, padahal kami sudah memberitahu bahwa kami wartawan,” katanya.

“Sayo berusaho menyelamatkan diri. Namun sangking banyaknya orang yang ngejar akhirnya sayo dipukul, diinjak injak dan sempat diseret oleh para pelaku,”tambah Taufik

Akibat pengeroyokan tersebut keduanya mengalami luka-luka memar dan robek di wajah. Keduanya lalu dilarikan ke IGD RSUD Hanafie Muarabungo untuk mendapatkan perawatan medis.

Pemimpin Redaksi Janbione Paisal Kumar sangat menyayangkan aksi kekerasan yang dilakukan oknum petugas SPBU dan kelompoknya terhadap wartawan Jambione dan TV One. Menurut dia, ini merupakan perbuatan kriminal. Karena dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum. ” Pasal 8 UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers dusebutkan bahwa dalam melaksanakan prifesinya wartawan mendapat perlindungam hukum,” jelasnya.

Kemudian pasal 18 dijelaskan setiap orang yang secara melawan hukum dengam sengaja melakukan tindakan yang menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 dipidana penjara paling lama 2 tahun dan denda paling banyak 500 juta. ” Kasus pengeroyokan ini sudah dilaporkan ke Polres Bungo. Kita minta pihak kepolisian mengusut tuntas kasus ini. Selain menghalang halangi tugas wartawan, ini juga merupakan tindak pidana pengeroyokan yang diatur dalam pasal 170 KUHP. Ini bukan merupakan delik aduan, ini delik biasa atau umum. Pihak kepolisian harus segera meringkus pelaku,” tegasnya.

Menurut Paisal, perbuatan para pelaku itu sudah sangat brutal. Jika tidak ditindak dikhawatirkan kejadian serupa akan terjadi lagi. Dan bisa menimpa wartawan wartawan lainnya.

Kasus pengeroyoiklamn dua wartawan ini juga mendapat reaksi dari sejumlah organisasi wartawan dan perusahaan media. Mereka juga mendesak polisi mengusut tuntas kasus ini.       

Sekretaris PWI Provinsi Jambi, Hery Farmansyah menyesalkan dan mengecam apa yang dilakukan oleh oknum pelangsir dan oknum petugas SPBU yang melakukan pengeroyokan dan pemukulan terhadap dua jurnalis TV One dan Jambi One. ” Saya minta kepada polisi serius menyelesaikan kasus ini. Dan berharap masyarakat dan semua elemen untuk memahami tugas dan profesi  dari jurnalis,” kata Hery. 

Apalagi sambung Hery Rawas, kejadian tersebut bertentangan dengan Undang-undang sebagaimana yang diatur dalam Pasal 8 UU nomor 40 tahun 1999 tentang Pers yang menyatakan, dalam menjalankan profesinya karena jurnalis mendapat perlindungan hukum. Kerja Jurnalistik meliputi mencari bahan berita, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah hingga menyampaikan kepada publik. Intimidasi/kekerasan terhadap Jurnalis yang tengah melaksanakan tugas adalah ancaman nyata bagi kebebasan Pers dan Demokrasi.

Kecaman serupa disampaikan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Bungo.

 Dewan Penasehat SMSI Bungo, Raden Beni Hidayat menyayangkan kejadian penganiayaan (pengeroyokan) yang menimpa Fitriyadi Wartawan Media JambiOne dan Taufik Iskandar Kontributor Media TVOne. ‘’ Ini merupakan tindak kriminal. Polisi harus segera melakukan pengusutan. Ini tidak bisa dibiarkan,’’ ujar Beni yang juga pengurus Ikatan Jurnalistik Televisi Indonesia (IJTI) Provinsi Jambi

Sementara itu, Ketua SMSI Bungo, Syapii Syarkawi meminta kasus ini diproses secara hukum. “Bahwa kami menyayangkan dan minta kasus ini diproses secara hukum,” tegasnya. 

Kecaman juga datang dari Ikatan Jurnalis Televisi Bungo (IJTB). Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Bungo Ilham sangat menyayangkan tindakan kekerasan tersebut. “Seharusnya tidak ada lagi tindak kekerasan terhadap wartawan, aksi brutal pengeroyokan harus di proses kejalur hukum,” kata Ilham.

“Pelaku harus dihukum sesuai dengan tindakan yang mereka lakukan. Pihak Pertamina Jambi harus segera menutup SPBU tersebut jika memang benar melakukan aktifitas ilegal Langsir BBM yang telah merugikan masyarakat banyak,”tambahnya.

Ilham menegaskan, dirinya bersama seluruh rekan-rekan media yang ada di Kabupaten Bungo hingga Provinsi Jambi akan menggiring kasus Pengeroyokan ini sampai para pelaku ditahan oleh pihak Kepolisian dan diproses sesuai aturan yang berlaku.

Ketua IJTI Jambi  Suci Anissa  melalui Koordinator Bidang Advokasi IJTI Jambi Arizal Antoni juga menyesalkan dan memprotes keras peristiwa yang dialami Taufik (Stringer TV One) dan Yadi (Jambi One). Menurut dia, Hal ini bertentangan dengan Undang-undang sebagaimana yang diatur dalam Pasal 8 UU nomor 40 tahun 1999 tentang Pers yang menyatakan, dalam menjalankan profesinya jurnalis mendapat perlindungan hukum.

Oleh karena itu IJTI Jambi selaku Organisasi Profesi meminta Pihak Kepolisian dalam hal ini Kapolda Jambi, dapat membantu dan memerintahkan Pihak kepolisian di wilayah tempat kejadian untuk mengusut tuntas penanganan kasus yang menimpa  Taufik dan  Yadi.

‘’Intimidasi/kekerasan terhadap Jurnalis yang tengah melaksanakan tugas adalah ancaman nyata bagi kebebasan Pers dan Demokrasi, untuk itu IJTI Jambi meminta kepada semua pihak untuk dapat menghargai dan memahami tugas dan profesi seorang Jurnalis sehingga tidak melakukan tindakan intimidasi/kekerasan. Pernyataan sikap ini disampaikan secara resmi kepada IJTI Pusat sebagai laporan dan Dewan Pers di Jakarta,’’ katanya.

Kabarnya, Kapolres Bungo AKBP Mokhamad Luthfi sudah mengetahui dan mendapat laporan kejadian pengeroyokan dua wartawan liputan Bungo tersebut. Melalui pesan whatshApp kepada Ilham, Ketua IJTB Bungo, Kapolres mengatakan akan menindaklanjuti laporan pengeroyokan tersebut. ‘’ Sedang dalam proses,’’ katanya. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *