MENELUSURI JEJAK JAMBI BAG.3

Dalam hal-hal yang mendesak seperti penyampaian berita atau perintah raja, dalam keadaan masih buta ilmu mata angin di antara anggota masyarakat itu ada yang mempunyai kepandaian dapat melakukan pentas penggal, atau potong kompas kata orang sekarang.

Mendaki menurun bukit mengarungi rawa dan sungai melalui hutan belantara dalam mencapai tujuannya, kemudian sebuah sungai yang tidak berinduk dan bukan cabang dari Batanghari terletak di bagian utara pantai Jambi ini. Berada dalam lingkungan Kabupaten Tanjung Jabung yaitu, Sungai Tungkal.

Dahulu kala sungai ini disebut Sungai Pengabuan, yang mungkin asal mula dari kata ‘pengabuan’, mayat yang sudah dibakar abunya dibuang ke sungai itu, pada masa kerajaan Melayu dan Sriwijaya. Masih dalam pengaruh agama Hindu-Budha. Jauh sebelum masuknya Islam ke daerah ini. Sungai ini bermuara ke Laut Cina Selatan.

Pada zaman kerajaan dan kesultanan dahulu, desa hanya berada pada bagian hulu saja. Di antaranya bernama Merlung, Pelabuhan Dagang, Lubuk Kambing, Taman Raja dan banyak lagi yang lain terhimpun dalam satu kesatuan daerah hukum adat, yang disebut marga. Seperti, marga batin dan kepenghuluan.

Dalam, daerah Jambi, oleh pemerintah Hindia Belanda resmi diakui sebagai adat. Adat yaitu susunan atau struktur dan tetap berjalan. Karena itu, adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari pada waktu itu masih membudaya dalam masyarakat Sungai Pengabuan atau Sungai Tungkal.

Pada zaman dahulu, makin ke hilir arah ke muara makin luasnya rawa-rawa dan sepanjang kiri-kanan sungai itu ditumbuhi pohon-pohon nipah. Pada bagian hilir lnya pada masa itu dapat dikatakan kosong atau belum berpenduduk. Sebagaimana juga sungai Betara yang berhulu ke Pematang Lumut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *