ZOLA MENGAKU STRESS GARA-GARA KETOK PALU

Dradio.id, Jambi –  Zumi
Zola, mantan Gubernur Jambi, hadir dalam sidang kasus suap “ketok
palu” pengesahan RAPBD 2018 dengan terdakwa Joe Fandy Yoesman Alias
Asiang. Zola saat ini, menjalani masa pidana di Lapas Sukamiskin Bandung.
Selain Zola, penuntut KPK menghadirkan, Erwan Malik, Efendi Hatta, Muhamadiyah,
Zainal Abidin, dan Asrul Pandapotan Sihotang.

Dalam kesaksiannya Zola mengaku sempat stres
karena terus ditekan dengan permintaan uang ketok palu dewan tersebut. Zola
juga mengaku pernah ditelepon almarhum Zoerman Manap yang saat itu merupakan pimpinan
DPRD Provinsi Jambi. Namun Zola mengatakan permintaan tersebut tidak
ditanggapinya dan dibiarkan saja dan dirinya sempat kesal atas permintaan
dewan. “Saya stres karena ditekan dewan, ini seperti permintaan tahun
sebelumnya (red, 2017),” ungkapnya dalam sidang yang dipimpin Ketua
Majelis Viktor Togi, kemarin (12/11). 

Zola mengaku mengetahui permintaan uang ketok
palu untuk pembahasan RAPBD 2017, setelah ribut di kalangan dewan soal bagian
tidak rata. “Waktu itu dewan ribut, jadi saya tanya Apif, makanya saya
tahu,” pungkasnya.

Selain itu, suami dari Sherrin Tharia, dicecar
soal 

Masalah gagalnya pembangunan flay over Mayang
yang disebut-sebut sebagai salah satu proyek yang dincar pimpinan DORD
Provinsi. “Setahu saya, jadi. Pembangunan bersifat multiyears, perdua
tahun. Hanya saja, setahu saya bermasalah dengan lahan karena kawasan padat
penduduk,” katanya.

Zola yang didatangkan dari Sukamiskin tersebut
datang dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 130 tersebut sempat
tertunda hampir satu Jambi di karenakan jarak pandang hanya 700 meter
dikarenakan embun tebal.

Sedangkan Erwan Malik, Efendi Hatta, Zainal
Abidin, dan yang lainnya yang datang dari lapas kals II A Jambi tersebut datang
dengan menggunakan mobil tahanan lebih dulu dari pada Zola. Mereka langsung
masuk ke ruang tunggu saksi di pengadilan Tipikor mereka datang dengan
pengawalan mobil lapis baja Brimob Polda Jambi.

Dalam persidangan kali ini, Asrul lebih banyak
dicecar pertanyaan terkait uang Rp 5 miliar yang dipinjam Arfan dari Asiang. “Sempat
bertemu tidak sengaja di pesawat dari Jambi tujuan Jakarta. Asiang waktu itu
menyebutkan kalau Arfan pinjam uang untuk dewan. Arfan datang ke rumah terdakwa
meminjam uang Rp 5 miliar,” ungkap Asrul, mengulang percakapannya dengan
Asiang.  

Dia juga mengungkapkan
pertemuannya dengan Amidi di hotel Sultan, Jakarta. Pertemuan itu diakui Asrul,
selain soal pinjaman uang, juga membicarakan  apakah Asiang akan mendapat
proyek tahun 2018. “Intinya pertemuan dengan Amidi, apakah terdakwa (Asiang, red)
mendapat proyek di 2018,” jelasnya. 

Erwan Malik mengungkap dewan minta uang Rp 200
juta minimal untuk anggota dewan. Sementara pimpinan dewan meminta fee proyek
dari Flay Over Mayang dan jalan di jangkat Kabupaten Merangin. “Minimal
segitu, untuk anggota saja. Khusus pimpinan dewan fee proyek sebesar dua
persen,” jelasnya. 

Sementara Zainal Abidin, mengaku menerima uang
sebanyak dua kali dalam pembahasan APBD tahun 2017. Uang tersebut diterima
sebesar Rp 200 juta dan 175 juta. “Saya terima dua kali, kedua duanya saya
terima untuk tahun 2017. Uang itu diantarkan Kusnindar,” ungkapnya. 

Begitu juga Muhamadiyah,
mengaku pernah menerima uang ketok palu tahun 2017. Saat itu uang tersebut
diserahkan Apif sebesar Rp 200 Juta. “Waktu itu dia yang mengantarkan uang
Apif,” ujarnya.

Namun, lanjut Muhamadiyah, tahun itu pembagian
uang ketok palu tidak merata. “Infonya tidak merata,” ujarnya. Efendi
Hatta juga mengaku menerima sejumlah uang dalam APBD 2017. “Kalau untuk
2017, menerima waktu itu. Kalau yang 2018 belum,” tandasnya.

Jaksa Penuntut KPK Iskandar Marwoto, mengatakan,
pihaknya membuktikan surat dakwaan. Tidak dalam mengungkap fakta baru.
“Tidak ada fakta baru, kita mau buktikan dakwaan. Dan pekan depan sudah
masuk agenda pemeriksaan terdakwa,” tandasnya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.