WOW, HUTAN RSUD RADEN MATTAHER CAPAI 10 M.

Dradio.id, JAMBI – RSUD Raden Mattaher, memiliki hutang senilai Rp 10 M ke perusahaan farmasi. Ini merupakan hutang yang berasal dari biaya pembelian obat-oabatan di RSUD Raden Mataher. Hal ini disebutkan oleh sekda Provinsi Jambi, M Dianto, Selasa (12/11) kemarin.

“Rumah sakit umum itu, kemarin disampaikan kepada kami, masih banyak obat-obat yang dipesan itu masih belum terbayar,” kata Sekda.

Munculnya hutang tersebut, dijelaskan Dianto karena belum bisa terukurnya berapa jumlah pasien di rumah sakit umum, berapa jumlah obat yang dibutuhkan, dengan anggaran yang telah disiapkan.

“Inilah ada salah perhitungan pada saat beberapa pasien yang tidak melewati tahapan BPJS, mereka langsung minta layani di RSUD, tanpa melalui beberapa puskesmas. Oleh karena itu, beban RSUD Raden Mattaher sampai saat ini tinggi. Bisa dilihat di RSUD, begitu panjang antrian pasien untuk dilayani di masing-masing dokter spesialis,” jelasnya.

Sementara, sambungnya, aturan baru BPJS sekarang, pasien harus melewati pengobatan dahulu di Puskesmas, setelah puskesmas membuat rujukan, barulah pasien itu sampai ke RSUD.

“Sekarang ini karena di beberapa puskesmas tidak menyediakan dokter spesialis, maka ini dilampaui oleh para pasien kita, yang cuma sebentar langsung minta rujukan langsung mempercayakan pengobatan itu ke RSUD. Nah beban ini yang menjadi beban Pemprov Jambi. Seiring waktu berjalan, obat yang disediakan di rumah sakit umum itu tidak mencukupi, dengan jumlah permintaan obat untuk melayani pasien,” bebernya.

Lanjutnya, kalau dihitung-hitung, hutang itu nilainya lebih dari Rp 10 miliar. Dan sedang diupayakan Plt Direktur RSUD untuk dapat terbayarkan dalam waktu yang tidak begitu lama, agar pesanan obat dari RSUD dapat terpenuhi oleh perusahaan farmasi. 

“Paling tidak kalau tidak bisa sepenuhnya, mungkin bisa berangsur separuh dulu. Baru nanti pesanan obat berikutnya bisa dipenuhi perusahaan farmasi yang biasa memasok obat di RSUD,” pungkas Dianto.

Sementara itu, Plt Direktur Utama RSUD Drg Iwan Hendrawan tak menampik belum membayar obat ke perusahaan farmasi.  “Iya karena klaim BPJS tersendat, maka kita juga tersendat membayar obat,” katanya.

Kemudian ditanya evaluasi agar klaim BPJS itu tak tersendat lagi tahun mendatang, dia menyebut tergantung pada BPJS nantinya. Bahkan, kata dia pihak RSUD meminta penambahan anggaran untuk mengatasai permasalahan pembayaran obat di RSUD ini. 

“Memang kita sedikit kesulitan untuk pembayaran obat, BPJS masih nunggak pembayaran ke kita, hingga kita mita bantuanlah ke Pemda,” tandasnya.

sumber : jambi independent

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *