PERTUMBUHAN EKONOMI MELAMBAT, KEMARAU DAN GAGAL PANEN JADI SALAH SATU PENYEBAB

Dradio.id, JAMBI – Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jambi Triwulan III tahun 2019 tumbuh sebesar 4,31 persen (y-on-y). Ini berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, Selasa (5/11).

Angka tersebut lebih kecil, dibandingkan ekonomi Provinsi Jambi Triwulan III tahun 2018, yakni sebesar 4,77 persen. Namun tetap mengalami pertumbuhan 1,35 persen (q-to-q) triwulan II pada 2019.

Kata Kepala BPS Provinsi Jambi, Dadang Hardiwan, angka tersebut bukan mengalami penurunan, namun melambat. “Tetap tumbuh, namun melambat. Dari kinerja Triwulan II (q-to-q) tumbuh sebesar 1,35 persen. Namun memang melambat dibandingkan triwulan III pada tahun sebelumnya,” jelasnya.

Ini dilihat dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha pengadaan listrik dan gas 6,66 persen. “Sementara dari sisi pengeluaran dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi pemerintah yang meningkat signifikan sebesar 22,73 persen,” bebernya.

Menurut Dadang, ada beberapa faktor penyebab melambatnya angka ekonomi tersebut. Berdasarkan fenomena Triwulan III/2019, pihaknya mencatat beberapa hal. Di antaranya, terjadinya kekeringan yang melanda sentra produksi pangan di Jambi, menimbulkan puso atau gagal panen padi.

Lanjutnya, musim kemarau 2019 berdampak pada penurunan produksi tanaman pangan, tanaman hortikultura, dan produksi perikanan. Kemudian, penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan menyebabkan penurunan produksi karet.

“Namun produksi kayu bulat untuk bahan baku industri mengalami peningkatan. Dan musim kemarau kering yang terjadi di triwulan ini belum berdampak pada produksi kelapa sawit,” jelas Dadang.

Selain itu, kata dia, ekspor luar negeri meningkat dibanding triwulan sebelumnya, ini dipicu oleh meningkatnya ekspor migas. Sementara, impor luar negeri menurun dibanding triwulan sebelumnya. “Penurunan dipicu oleh turunnya impor barang modal,” katanya.

Masih kata Dadang, komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) triwulan III mengalami pelambatan, karena terjadinya peningkatan konsumsi pada bulan puasa, hari raya idul fitri dan liburan cuti bersama pada triwulan II.

Sementara itu, pada triwulan III, kenaikan PKRT terutama disebabkan oleh tahun ajaran baru dan liburan sekolah. “Kemudian adanya bencana kabut asap menyebabkan kenaikan pengeluaran jasa kesehatan,” bebernya.

Namun, Dadang mengatakan untuk target triwulan IV dari sisi Indeks Tendensi Konsumen (ITK), cenderung naik sekitar 108. sehingga pihaknya optimis pada triwulan IV secara perekonomian dilihat dari variabel pendapatan, persepsinya mengalami peningkatka. “ITK di triwulan berikutnya mengalamai peningkatan, semoga pada November Desember semoga tidak ada kejadian,” katanya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *