AKTIVITAS PETI BERKEDOK GALIAN C MERESAHKAN WARGA

Dradio, BANGKO- Meskipun Pemda Merangin sedang menggalakkan pemberantasan Penambang Emas Tanpa Izin (PETI), namun hingga saat ini masih saja ada aktifitas PETI yang beroperasi.

Seperti di Desa Seling Kecamatan Tabir.  PETI beroperasi bebas di sepanjang aliran sungai setempat. Ironisnya lagi, aktifitas PETI di desa ini juga berkedok Galian C yang diduga tidak memiliki izin namun tetap bebas beroperasi.

Dengan adanya aktivitas PETI tersebut, tentu sangat meresahkan warga, bahkan menimbulkan tanda tanya besar dibalik bebasnya aktifitas ilegal tersebut.

Salah satu warga setempat, Nasir mengatakan, aktifitas PETI yang juga berkedok Galian C memang sudah sangat meresahkan warga. Dari penuturannya, yang juga mendapat informasi dari warga lainnya, pulau itu telah dibeli oleh salah satu warga setempat, lalu menjual pulau Desa itu ke pihak lainnya. 

 “Dimana ketegasan kepala desa, mengapa dibiarkan beroperasi, memang pulau itu sudah dibeli, tapi jangan sampai merusak lingkungan di sungai ini,” katanya.

 Senada dengan Nasir, warga lainnya, Dinar yang juga memiliki sawah di lokasi setempat juga mengeluhkan aktifitas Galian C tersebut. Ia menilai aktifitas galian C  sudah melampaui batas.

 “Sawah kami terancam runtuh, karena alat berat sudah sampai ketengah sungai mengeruk batu, selaku yang punya sawah kami tidak senang,” jelasnya.

 Terpisah, Ketua RT 9 Sudin menyebutkan bahwa dirinya sudah berupaya mencegah beroperasinya alat berat tersebut. Namun tetap saja beroperasi hingga mengeruk batu ketengah sungai.

 “Sudah saya cegah tapi masih beroperasi. Yang kami khawatirkan tanah yang dibronjong runtuh apalagi disana ada sawah warga,” sebutnya.

Terkait hal ini dirinya sudah berkoordinasi bersama Kepala Desa dan Ketua BPD. Namun dirinya tidak mendapat alasan yang jelas dari petinggi desa tersebut.

 “Sudah saya sampaikan dengan Kepala Desa dan BPD jawabnya iya iya saja, sampai sekarang belum ada solusinya,” ungkapnya.

Sementara, Ketua BPD Desa Seling, Amir mengatakan hal senada, bahwa dirinya sudah berupaya mencegah sampai menelpon pemilik alat berat.

 “Sudah saya cegah, saya bersama perangkat desa turun kelokasi. Dan ini juga sudah saya komunikasi dengan pembeli dan penjual. Saya katakan perjanjiannya yang dijual itu pulau, bukan sampai ketengah sungai nanti beronjong itu runtuh,” terangnya. 

sumber : jambi independent

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *