Pengusaha Kurangi Jumlah Penumpang Pelayaran Ikut Terganggu

Dradio.id – Kabut asap tebal yang melanda Kabupaten Tanjab Barat dan sekitarnya, sejak beberapa hari terakhir ternyata tidak hanya mengganggu aktivitas sekolah. Aktivitas pelayaran ikut terganggu.

Kadir, pimpinan salah satu penyedia jasa transportasi laut, mengatakan bahwa kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kiriman dari daerah tetangga tersebut membuat jarak pandang di laut tempat jalur lintas pemberangkatan menjadi terbatas.

“Kabut asap menghambat dan membuat jarak pandang nakhoda speed boat kami terganggu, maka dari itu kami mempersiapkan alat seperti pelampung, senter untuk keselamatan penumpang karena kabut asap menganggu pelayaran,” kata pimpinan perusahaan yang bergerak di bidang transportasi laut itu.

Dampak dari kabut asap terhadap pelayaran di pelabuhan, yaitu pengurangan kapasitas penumpang. Semula sekitar 30 penumpang, kini dikurangi menjadi separuh penumpang karena dampak dari kabut asap. “Penumpang kita kurangi menjadi separo supaya aman kita di laut” katanya.

Kabut asap juga membuat para nakhoda harus berhati hati agar selalu mengutamakan keselamatan para penumpang, untuk itu kecepatan dari supir harus dikurangi. “Keselamatan penumpang harus di utamakan walaupun kabut asap makin tebal, karena itu kecepatan harus dikurangi agar penumpang selalu terjaga dan selamat,” jelasnya.

Sementara nakhoda speedbot, Fauzi mengatakan dirinya saat ini berhati hati dalam membawa penumpang, karena kabut asap makin tebal saat pagi hari sampai sore hari. “Saya sangat berhati hati membawa penumpang, maka dari itu saya membawa penumpang ke tengah bukan ke tepi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan” pungkasnya

Terpisah, penumpang bernama Ahmad dengan rute keberangkatan Kuala Tungkal-Tembilahan menyayangkan adanya kabut asap ini. Menurutnya selain membuat pernafasan sesak juga membuat penumpang yang sering pergi melalui jalur laut menjadi takut. kabut asap membuat jarak pandang di laut menjadi terganggu untuk pelayaran pemberangkatan.

“Kami menjadi takut untuk menggunakan pelayaran di laut, karena kabut asap, tapi mau bagaimana tempat tinggal kami hanya bisa melalui transportasi laut” pungkasnya.

SUMBER : Jambi Independent

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *