Budayawan Jambi, Junaidi T Noor Tutup Usia

Dradio.id, JAMBI – Siapa yang tak mengenal pria 72 tahun ini. Seorang sejarawan dan budayawan tersohor di Provinsi Jambi. Ya, Junaidi T Noor. Pria kelahiran Tanjung Karang, 24 April 1947 silam ini, telah menghembuskan nafas terakhirnya, Selasa (10/9) sekira pukul 13.15.

Tentu kepergian Junaidi T Noor meninggalkan duka yang mendalam. Bagi keluarga maupun kerabat. Junaidi T Noor, sebelum meninggal dikabarkan memiliki riwayat penyakit hipertensi dan jantung, sejak 2 tahun terakhir.

Informasi yang dihimpun Jambi Independent, Junaidi meningal dunia di rumahnya sendiri. Awalnya, dia hendak melaksanakan salat zuhur di rumah. Saat itu, dirinya sedang mengambil air wudhu di kamar mandi. Namun, tiba-tiba ia terjatuh dan langsung mengalami pendarahan pada hidungnya.

“Saya dapat kabar ini setelah ditelpon adik saya yang ada di rumah. Pas saya sampai rumah, sudah meninggal,” kata Ika, anak pertama Junaidi. Ika juga sempat kaget mendengar kabar tersebut. Pasalnya, beberapa hari belakangan tak ada sikap dan tingkah yang aneh dari ayah tercintanya ini.

Biasanya, sang ayag sering main bersama cucunya. “Kadang dia banyak menghabiskan waktunya dengan cucunya, menggambar sama jalan di depan rumah,” tambahnya.

Junaidi T Noor atau biasa dipanggil Oppa oleh cucunya ini, anak pertama dari 18 saudara. Di masyarakat, dirinya juga dikenal dengan orang yang baik, pekerja dan tidak pelit. Selain itu juga senang berkumpul atau berorganisasi.

M Umar (69) yang merupakan adik kelas semasa di SMA 2 dulu, amat mengenal siapa Junaidi T Noor. Dia yang suka membaca dan mencari tahu tentang pahlawan Jambi serta suka menulis. Selain itu, dahulunya Junaidi T Noor selalu turun di setiap pelosok desa, wilayah untuk mencari dan bertanya kepada penduduk hanya untuk mengetahui kebudayaan Jambi.

“Dia suka turun ke wilayah untuk memecahkan nama yang ada di daerah-daerah,” kata Umar. Putra kebanggaan Jambi ini telah melakukan survei untuk mengetahui asal usul nama daerah seperti, Simpang Pulai, Kota Jambi kemudian Tanjung Pinang Kota Jambi, Simpang Jelutung dan lain sebagainya.

Kata Umar, Senin (9/9) sore dirinya masih berjumpa dengan Junaidi untuk membahas program pembentukan paguyuban alumni SMA 2. Rencananya tanggal 1 Desember mendatang akan ada penandatanganan peresmian prasasti dan Paguyuban SMA 2. Namun, siang ini (kemarin, red) dirinya yang kembali hendak berjumpa dengan Junaidi, ternyata pupus setelah mendengar kabar ini.

“Sampai bedug bunyi saya masih di sini kemarin sore, sebelum tengah hari tadi (kemarin, red) saya mau ketemu dia lagi rupanya dapat berita kalau dia sudah meninggal,” sebutnya. Isak tangis keluarga pecah saat kepergian Junaidi. Dia disalatkan di Masjid Darul Hikmah yang berada di belakang rumahnya sendiri. Kemudian langsung dibawa ke kawasan Puncak, Kecamatan Jelutung untuk segera di makamkan sekira pukul 16.30.

Selain itu, para pejabat-pejabat Provinsi Jambi juga terlihat hadir untuk menyelawat dan mengirimkan doa. M Dianto, Sekda Provinsi Jambi terlihat bersama beberapa rekannya hadir untuk menjenguk Junaidi yang terakhir kalinya.

“Kita turut belasungkawa atas meninggalnya tokoh sejarah ini. Dulu dia orang yang humoris dan tidak kaku santai, tapi pasti dengan apa yang dikerjakannya,” kata dia.

Lanjut Dianto, belum lama ini Junaidi T Noor datang ke kantor dan berjumpa dengan Fachrori Umar selaku Gubernur Jambi, untuk membicarakan pembuatan film tentang Jambi dan pahlawannya yang belum banyak orang tahu.

Junaidi T Noor sendiri merupkan teman dekat almarhum Zulkifli Nurdin di masa sekolah dasar. “Yang membekar, beliau banyak tahu tentang sejarah. Selain itu terus berusaha mengangkat pahlawan jambi ke kancah nasional. Bahkan ia siap mendampingi, untuk emncari naskah pahalwan nasional hingga ke Belanda,” jelasnya.

Senada juga dikatakan oleh Sarbaini, tetangga dekat Junaidi T Noor. Dikatakannya, selama bersosialisasi, Junaidi merupakan orang yang ramah dan kerap memberikan ilmu kepada pemuda-pemudi sekitar. “Ya kita juga merasa kehilangan, beliau orangnya aktif dan tentu kerap memberikan ilmunya,” singkat Sarbaini.

Kabar duka ini juga sampai ke telinga Wali Kota Jambi, Sy Fasha. Dalam perjalanan pulangnya ke Jambi usai berdinas di luar kota, Fasha menyampaikan rasa belasungkawa atas berpulangnya sejarawan dan budayawan senior Jambi tersebut.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun, telah berpulang ke Rahmatullah orang tua kita, tokoh penting Provinsi Jambi, sejarawan sekaligus budayawan senior yang banyak memberikan kontribusi baik karya maupun pemikiran untuk Jambi. Tentunya kita sangat kehilangan beliau, Jambi kehilangan putra terbaiknya,” ujar Fasha.

Dia memiliki cerita tersendiri akan dedikasi almarhum sebagai sejarawan Jambi. Beberapa waktu lalu, walaupun dalam kondisi kesehatan yang menurun, Junaidi T Noor masih menyempatkan menghadiri undangannya sebagai narasumber, saat digelarnya seminar penganugerahan Gelar Pahlawan kepada Pejuang Jambi, Raden Mattaher.

“Kami sangat mengapresiasi almarhum dan kami merasa sangat kehilangan,” beber Fasha. Kata dia, Junaidi T Noor mendapat tempat khusus di hatinya dan segenap warga Kota Jambi. Junaidi T Noor banyak memberi informasi penting terkait perkembangan sejarah Jambi dan budaya Melayu Jambi.

“Selamat jalan Bapak Sejarah dan Budaya Jambi, Junaidi T Noor. Semoga amal bakti dan kontribusimu dalam memajukan sejarah dan budaya Jambi, menjadi penyuluh dan amal jariyah yang sangat bermanfaat bagi Provinsi Jambi,” pungkas Fasha.

SUMBER : Jambi Independent

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *